Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Puisi Hari Ibu

Posted by Hello Word on Sunday, December 25, 2011

Buat Ibu Tersayang  di Hari Ibu Yang Indah
Dalam realita kehidupan manusia …….
Minimal ada seorang wanita yg sangat PEDULI kamu.. Pasti.. ! ! !
Terlepas kamu setuju atau Tidak, terima atau tidak, Wanita ini ada..!
Dan ia adalah satu satunya manusia di Planet ini yg izinkan Rahimnya kau tempati free of charge selama 9 bln .
Yg Siap menahan sakit demi u/kehadiranmu disini sekalipun kadang nyawanya menjadi taruhan.
Dalam membesarkanmu ia melewati hari-hari yg tidak gampang.. Sering ia tidak tidur karena kamu sakit.., dlm kebingungan ia hanya menangis dan berdoa karena panasmu yg tidak reda, atau kamu tdk buang kotoran. Ia tidak jijik dgn kotoranmu berlepotan dibadannya bahkan ia bisa tertawa lepas saat semua itu terjadi.

Tahun-tahun berganti..Kini kamu sudah Dewasa. Kamu sudah bisa ke Dokter sendiri kalau kamu sakit..Dan status kamu pun kini sdh berubah..Kini kamu Tidak butuh wanita itu lagi.
Sekarang wanita itu sudah tua.. lamban, suka dgn cerita lama yg membosankan, nasehatnyapun selalu itu-itu saja..Belum lagi kadang beliau bersikap sangat protektif dan kadang bau badannya yg sering diprotes oleh: pacarmu / suami atau istrimu / anak-anakmu. Dalam berkomunikasi pun kamu merasa sudah kesulitan dan mesti bersusah Payah dulu .. Susah..! krn pendengarannya menjadi buruk ketika usinya beranjak menua .

Hai Saudaraku..
Anda benar.. Wanita tua ini sering membosankan dan gak nyambung.. Tapi coba berdiamlah diri beberapa menit dlm hening..
Renungkan ini…….

Sejelek apapun dia.., sebawel apapun dia …. org lain boleh Tidak suka dia. Tapi Kamu Tak Boleh…. Sebab ia adalah IBUmu, Malaikat mu

Di hari tuanya yg mungkin tak lama lagi.., Bukanlah HARTA mu yg ia harapkan, ia TIDAK butuh apapun dari kamu. Ia hanya Takut.. Kehilangan kamu.. Takut kamu tdk peduli dia lagi.. Karena ia begitu mencintaimu.
Ia sdh Bahagia kalau kamu datang n bertanya “apa kabar Mama..? Dan tanganmu mau mengelus dia, beliau hanya butuh Perhatian mu .
Saudaraku maafkan dia kalau ia pernah melakukan hal yg mengecewakan kamu atau mungkin menyaliti mu …. Percayalah ia pantas untuk kau cintai, ia pantas utk dimaafkan …..

Saudaraku..
Waktu wanita tua itu tidak banyak lagi..
Dengarkanlah ini: Jangan Lagi Bersuara Keras Padanya..
Dalam keadaan apapun.. Itu akan sangat melukainya.
Jangan lagi kamu berani memarahi nya oleh karena sebab apapun , hatinya akan sangat tersinggung dan perasaannya akan terluka karena anak yg disayangnya sejak kecil ternyata telah Berubah ……
Bahagiakan Ibumu dengan cara apapun semampu kamu , sewaktu beliau masih ada didunia ini , sebelum semuanya terlambat …….

Bila ibu sudah tiada segera minta lewat doa pada Tuhan, untuk ibu kita yang tersayang, bila ibu masih ada segera ucapkan terima kasih atas semua kasihnya selama ini, mintakan maaf atas segala kesalahan yang sering kita lakukan pada beliau peluk bunda dengan tulus penuh kasih

SelengkapnyaPuisi Hari Ibu

Kumpulan Puisi Untuk Ibu Tercinta

Posted by Hello Word

Cerita Bunda 

Bunda,
tahukah kau apa yang kutunggu?
katakanlah,
akulah tokoh dalam dongengmu,
ksatria yang kau puji,
bersenjatakan nurani,
yang menepati janjinya pada bumi.

Mengenai perahu yang tak kunjung menepi,
pantaskah untuk dinanti?
biarkan dia menjemput nasibnya,
serupa dengan retaknya tanah kering,
serta merta akan menutup kembali,
oleh deru hujan,
sahabatnya sang petir.

Bunda,
Malin Kundang telah menjadi batu,
akankah usai ceritamu?
Lalu bagaimana dengan harapanku,
untuk membangun istana berdinding salju,
yang menyejukkan hati semua manusia,
seperti di negeri dalam dongengmu.



Asal Ibu Senang

Khusuk hening dalam tahajjudmu,
tertengadah dan merunduk dalam keihlasan,
menghiasi malammu yang sepi merajuk,
tiada beban yang melingkar di pundakmu,
semua kau luruhkan untukku,
anakmu.

Ibu, walau di matamu,
selamanya aku adalah ranting kecil,
yang kau khawatirkan patah ditiup angin,
dan kau cemaskan akan rapuh dan lemahku,
tapi sesungguhnya aku ingin merindang,
melindungimu dari sedih nestapa.

Andai aku dipanggilNya lebih dulu,
aku ingin selalu datang ke bumi setiap malam,
bergayut di sayap malaikat pembawa rahmat,
yang menjinjing seribu salam indah dari surga,
untukmu,
ketika air matamu menetes di atas sajadah.

Aku ingin berlebihan di hadapanmu,
untuk menutup kekuranganku,
walau harus kupaksakan,
tapi tak apalah,
asal Ibu senang,
karena kesenangamu adalah nyawaku.


Kasur Kapuk

Mak, aku pulang,
seperti biasa,
tolong siapkan air hangat di tungku,
buat aku mandi malam ini.

Kulihat kasur kapuk itu mulai lapuk,
dua warnanya berubah menjadi tiga,
oleh bocoran atap yang tak rapat.
Biarlah esok aku yang menambalnya.

Mak, harusnya kau tak lagi bekerja,
menguras tenaga untuk bisa belanja,
biarlah kupikul kayu bakar itu,
agar punggungmu tak lagi membiru.

Mak, kalaulah aku menagis,
tangisku itu hanya untukmu,
kalaulah aku meratap,
jangan pernah kau menatap.

Mak, aku malu jadi anakmu.
setiap saat melihat dukamu,
tapi tak pernah kudengar rintihmu,
walau nestapa enggan beranjak darimu.


Untuk Ibu

Ibu, wajah berserimu itu sekarang kulihat tua.

Tubuh tegarmu itu sekarang mulai melemah.

Sinar mata yang tajam saat memarahiku dulu,

kini tak pernah lagi kulihat.


Ibu, Aku rindu marahmu

Cubit lenganku lagi sampai berwarna merah

Merahkan juga telingaku dengan kritik tajammu

Lakukan saja apapun yang kau mau padaku

Kau injak kepalakupun kan kuserahkan dengan tersenyum


Ibu, aku bukanlah siapa-siapa di depanmu.

Yang dulu tak pernah bisa ke mana-mana,

tanpa meringkuk di gendonganmu.

Sekarang masih seperti dulu, Bu.

Aku hanya seonggok daging kecil,

yang tak pernah bisa bernafas tanpa kasihmu


Ibu, sudah berapa kali aku melukaimu?

Pasti sudah hilang kan catatanmu?

Sedangkan aku masih memiliki catatan-catatan bodohku,

yang merasa telah kau kecewakan.


Ibu, Dapat kuhitung dengan jari tanganku,

berapa kali aku membuatmu tersenyum,

berapa lembar kain yang pernah kubeli untukmu

Tak banyak kan?

Tapi kenapa kau tak pernah meminta?


Ibu, aku takut kau tinggalkan aku,

karna aku memang tak pernah siap kau tinggalkan.

Aku sangat membutuhkan teguranmu

Aku ingin melihatmu setiap pagi
SelengkapnyaKumpulan Puisi Untuk Ibu Tercinta